Sabtu, 07 Maret 2009

APOCALYPSE 2012

Dari majalah utk tombo ngantuk.........rekans

Menurut bangsa Maya, kiamat terjadi pada 2012. Itu menyebabkan panas secara radikal di bumi Dan merusak sistem elektronik.

Ada hal yang perlu diketahui tentang kiamat menurut bangsa Maya. Kalender Bangsa Maya dimulai tahun 3113 SM sampai 2012 M. Kalender itu berakhir pada 21 Desember 2012, Dan tanggal itu merupakan “End of Time” atau akhir dari waktu atau zaman.

Ramalam bangsa Maya tentang kiamat dunia paa 2012, merupakan bagian dari kalender Long Count yang juga dikenal sebagai Winaq May Kin. Kalender itu meyakup sekitar 5.200 tahuan surya, periode yang disebut satu matahari oleh bangsa Maya. Selain itu, Ada juga cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, Dan akhirnya kimi memamas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012.

Dalam perhitungan Maya yang ganjil, satu tahun terdiri atas 360 Hari, sisanya 5.25 Hari (4 x 0,25 diperhitungkan sebagai Hari kabisat Dan dianggap diluar waktu). Secara tradisional bangsa Maya mempersembangkannya sebagai ucapan syukur atas tahun sebelumnya, sekaligus merayakan tahun yang akan datang.

Kalender Maya menyatat pergerakan matahari, bulan Dan planet-planet yang terlihat, masa panen, serta siklus serangga Dan jangka waktunya berkisar dari 260 Hari hingga 5.200 tahun lebih. Sejak peradaban manusia bangkit, Kita telah melewati tiga matahari secara penuh, Dan sekarang menyelesaikan matahari keempat yang akan berakhir pada 21 Desember 2012.

Benarkah kiamat akan terjadi pada 2012 ? Kehebohan itu sebenarnya tak berkaitan dengan tahun 2012. Tahun 2012 buka nlah tentang kematian. Menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian Dan Informasi kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S. Tedjasukmana, “Fenomena yang muncul pada 2011-2012 adalah badai matahari”. Prediksi itu berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak 1960-an, Dan di Indonesia dipantau oleh Lapan sejak 1975. Pasalnya, aktivitas baru di matahari yang disebut “Solar Cycle 24” terlacak oleh lembaga atmosfer Amerika Serikat, NOAA (National Oceanic And Atmospheric Administration). Bintik matahari itu adalah badai magnetik, lebih besar dari pada bumi, yang menodai permukaan matahari. Suhunya kira-kira 1.500 derajat celcius lebih dingin. Oleh karena itu, cuacanya lebih gelap dibanding daerah sekitarnya yang bersuhu 5.800 derajat.

Bintik matahari terjadi dalam daur sembilan sampai tiga belas tahun-lebih sering sebelas tahun-jangka waktu normal dari satu solar maksimum (jumlah bintik matahari terbanyak) ke solar maximum berikutnya. Begitu pun sebaliknya, dari solar minimum ke solar minimum berikutnya.

Maka, logis jika periode waktu dari solar maksimum ke solar minimun, dari puncak hingga nadir, bisanya berada dalam rentang waktu 5 sampai 6 tahun. Daur sekarang ini, 23, akan mencapai titik nadir pada akhir 2006. Daur berikutnya, 24 akan memuncak pada 2012.

Bintik matahari telah dimonetor dengan Mata telanjang selama ribuan tahun. Dengan teleskop, tak lama setelah Galileo menyiptakannya pada 1610m Dan dengan satelit sejak pertengan 1970-an. Ada konsensus ilmiah yang lebih luas, bahwa aktivitas matahari keseluruhan –pada dasarnya berarti beragam bentuk ledakan Dan letupan surya-meningkat saat jumlah bintik matahari meningkat, Dan turun ketika jumlah bintik menurun.

Badai matahari adalah fenomena alam yang terjadi pada matahari ketika terlemparnya proton Dan elektron akibat aktivitas magnetik matahari. Akibat aktivitas magnettik tersebut, gelombang magnetik yang mengarah ke bumi menghalangi sinyal-sinyal komunikasi. Oleh karena itu, seluruh alat komunikasi yang menggunakan sinyal elektromagnetik, pada saat itu tidak bisa berfungsi dengan baik.

Badai matahari yang melontarkan awan gas maganetik, berkecepan tinggi. Masiha ingat peristiwa badai matahari pada bulan Oktober Dan November 2003 ? Badai itu menyebabkan berbagai gangguan di lingkung an bumi, penampakan aurora yang sangat menakjubkan di kutub, kebaikan intensitas sabuk radiasi yang menyelimuti bumi, bahkan mengganggu inerja satelit.

Itu akan menyebabkan panas yang luar biasa di bumi. Terlebih atmosfer sudah mengalami penipisan Dan bolong di beberapa bagian. Sehingga, selain memanaskan bumi secara radikal, juga melelehkan es di kutub, Dan menimbulkan badai serta topan yang dahsyat.

Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi matahari, mulai retak. Bahkan Ada yang sampai sebesar kota California. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung. Badai matahari atau solar strom dapat menimbulkan ledakan energi yang cukup dahsyat ke arah bumi.

Ledakan itulah yang kemudian akan mengganggu jalannya sistem sinyal elektronik yang sensitif, khususnya ponsel Dan GPS. Keakuratan GPS akan berkurang hingga 90%, Dan dapat rusak. Itu sangat membahayakan dunia penerbangan, dimana fungsi GPS sudah seperti “nafas pada manusia”.

Fenomena itu, juga sangat berpengaruh pada pembangkit listrik jika terus dinyalakan pada saat badai berlangsung, karena medan magnet bumi yang tidak stabil. Jika pembangkit listrik tersebut rusak, maka dibutuhkan waktu sekira dua tahun untuk membangunnya kembali. Itu memaksa masyarakat untuk kembali hidup tanpa listrik, hingga pembangkit listrik baru selesai dibangun.

Menurut wikipedia, itu pernah terjadi di Quebee pada 13 Maret 1989, saa enam juta orang hidup tanpa listrik selama sembilan jam. Pada hal puncak ledakan badai matahari jika mengenai bumi bisa mencapai lebih dari dua Hari. Seperti pernah dikutip oleh ABC News pada 14 Januari 2007. “Solar storm ini akan mempengaruhi beberapa menara di beberapa wilayah. Dan menara telekomunikasi merupakan sasaran empuk dari aktivias solar storm” ujar Dale Gary. Ilmuwan yang juga petinggi di Institut New Jersey bagian fisika.

Rabu, 04 Maret 2009




















Pembentukan awal Tata Surya. Kredit Gambar : Sky & TelescopePada mulanya, Tata Surya hanya berupa sebentuk piringan berisi awan debu dan gas panas, yakni Nebula Matahari. Saat gas di tepi nebula mulai mendingin, material awal mulai berkondensasi menjadi partikel padat yang kaya elemen kalsium dan alumunium. Dan ketika gas kemudian mendingin, material lainnya pun mulai berkondensasi. Partikel padat dari berbagai tipe kemudian mulai menyatu membentuk batuan komet, asteroid, dan juga planet.

Tapi, apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu, saat Tata Surya terbentuk? Saat itu belum ada saksi hidup yang bisa menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut. Namun, bukan berarti pembentukan Tata Surya tidak memiliki saksi sama sekali. Ada banyak saksi yang kemudian bercerita dengan caranya sendiri. Batu-batuan yang jatuh ke Bumi ternyata menyimpan segudang cerita dan informasi dari masa lalu. Satu per satu misteri pun terkuak. Pengamatan dan misi yang dikirimkan membawa pulang cerita masa lalu Tata Surya.

Kali ini, satu cerita kembali terkuak dengan ditemukannya 3 buah asteroid yang sekaligus merupakan 3 objek tertua yang ada di dalam Tata Surya. Bukti tersebut didapatkan dari data pengamatan pada cahaya tampak dan inframerah dengan teleskop di Mauna Kea, Hawaii. Ketiga asteroid kuno tersebut tidak mengalami perubahan berarti semenjak terbentuk sekitar 4.55 miliar tahun lalu, dan mereka pun jauh lebih tua daripada meteorit tertua yang pernah ditemukan di Bumi. Hasil identifikasi terhadap ketiga asteroid ini menunjukkan bahwa ketiganya belum pernah ditemukan sebelumnya, dengan skala waktu pembentukan pada periode awal pembentukan Tata Surya. Karena itu, akan sangat menarik untuk menempatkan ketiga asteroid ini untuk menjadi kandidat misi ruang angkasa di masa depan. Diharapkan, misi tersebut akan dapat mengumpulkan dan membawa pulang contoh dari asteroid tersebut ke Bumi untuk diteliti. Dengan demikian, kita akan dapat memahami lebih jauh proses pembentukan Tata Surya pada beberapa juta tahun pertama.

Bagi para astronom, setidaknya sebagian asteroid tertua yang ada di Tata Surya harus kaya akan kalsium dan alumunium. Namun, sampai saat ini, asteroid dengan kandungan seperti itu belum ditemukan. Meteorit yang ditemukan di Bumi memang mengandung sejumlah kecil materi yang terkondensasi di awal pembentukan. Pada meteorit yang ditemukan, materi kuno berwarna putih terang yang dikenal sebagai calcium, alumunium- rich inclusions (CAIs), dengan diameter sebesar 1 cm. CAIs juga digunakan untuk menentukan umur Tata Surya.

Meteorit Allende. Kredit Gambar : The Center of meteorite Studies, Arizona States Universities.
Meteorit Allende. Kredit Gambar : The Center of meteorite Studies, Arizona States Universities.
Jatuhnya meteorit Allende tahun 1969 menandai revolusi dalam studi Tata Surya dini. Saat itulah, untuk pertama kalinya, para ilmuwan bisa mengenali materi CAIs yang berwarna putih tersebut. Materi yang ditemukan dalam meteorit tersebut sesuai dengan berbagai parameter yang diperkirakan ada pada saat Tata Surya dini berkondensasi.

Sangat menakjubkan, karena ternyata butuh waktu 39 tahun hingga manusia bisa mengumpulkan spektrum objek CAIs. dan ternyata spektrum yang didapat justru membawa kita pada asteroid yang menjadi saksi sejarah pembentukan Tata Surya pada tahap paling awal.

Tim peneliti yang terdiri dari Jessica Sunshine dari Universitas Marryland; Tim McCoy, kurator dari The National Meteorite Collection di Smithsonian’s National Museum of Natural History; Harold Connolly, Jr dari City University, New York; Bobby Bus dari Institute for Astronomy, University of Hawaii; Hilo dan Lauren La Croix dari Smithsonian Institutio, menggunakan instrumen SpeX pada NASA Infrared Telescope Facility di Hawaii untuk mengamati permukaan asteroid sebagai bukti keberadaan sedikit batuan bertemperatur tinggi yang ada pada awal Tata Surya. Secara umum, tim ini mencari jejak spektrum yang mengindikasikan keberadaan CAIs. Namun, karena setiap mineral yang berbeda memiliki warna pantulan yang berbeda, maka spektrum atau warna yang dipantulkan dari permukaan akan dapat mengungkap informasi komposisi pembentuknya untuk dianalisis lebih lanjut.

Perbandingan yang dilakukan antara asteroid yang ditemukan dengan koleksi meteorit dari Smithsonian’s National Museum of Natural History menunjukan kekayaan CAIs pada asteroid yang ditemukan ternyata 2 hingga 3 kali lebih banyak daripada materi di meteorit yang sudah ditemukan. Dengan demikian, bisa disimpulkan jika ternyata asteroid kuno masih ada yang selamat hingga saat ini. Dan kita tahu di mana mereka berada sekarang.